<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>perlindungan anak Archives -</title>
	<atom:link href="https://www.hugouelman.com/tag/perlindungan-anak/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://www.hugouelman.com/tag/perlindungan-anak/</link>
	<description></description>
	<lastBuildDate>Thu, 26 Feb 2026 09:39:42 +0000</lastBuildDate>
	<language>en-US</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=7.0.1</generator>

<image>
	<url>https://www.hugouelman.com/wp-content/uploads/2023/12/cropped-cooltext449554743224214-1-32x32.png</url>
	<title>perlindungan anak Archives -</title>
	<link>https://www.hugouelman.com/tag/perlindungan-anak/</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Status Kewarganegaraan Anak Alumni LPDP: Ahli Hukum Buka Suara</title>
		<link>https://www.hugouelman.com/status-kewarganegaraan-anak-alumni-lpdp-ahli-hukum-buka-suara/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[admin]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 26 Feb 2026 09:39:42 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[hukum]]></category>
		<category><![CDATA[nasional]]></category>
		<category><![CDATA[hukum keluarga]]></category>
		<category><![CDATA[ius sanguinis]]></category>
		<category><![CDATA[kewarganegaraan]]></category>
		<category><![CDATA[LPDP]]></category>
		<category><![CDATA[perlindungan anak]]></category>
		<category><![CDATA[WNA]]></category>
		<category><![CDATA[WNI]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.hugouelman.com/status-kewarganegaraan-anak-alumni-lpdp-ahli-hukum-buka-suara/</guid>

					<description><![CDATA[<p>Dirjen AHU Kemenkum HAM angkat bicara soal polemik perubahan status kewarganegaraan anak penerima beasiswa LPDP dari WNI menjadi WNA....</p>
<p>The post <a href="https://www.hugouelman.com/status-kewarganegaraan-anak-alumni-lpdp-ahli-hukum-buka-suara/">Status Kewarganegaraan Anak Alumni LPDP: Ahli Hukum Buka Suara</a> appeared first on <a href="https://www.hugouelman.com"></a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><a href="https://naderkarimi.github.io/public/dampak-rasio-rtp-terhadap-perilaku-pemain-studi-longitudinal-selama-5-tahun.html" target="_blank">normalnya perubahan RTP</a></p>
<p>Direktur Jenderal Administrasi Hukum Umum Kementerian Hukum dan HAM, Widodo, memberikan penjelasan terkait polemik status kewarganegaraan anak dari alumni penerima beasiswa Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP), Dwi Sasetyaningtyas, yang berubah dari Warga Negara Indonesia (WNI) menjadi Warga Negara Inggris.</p>
<h2>Perubahan Status Dinilai Langgar Hak Anak</h2>
<p>Widodo menegaskan bahwa mengalihkan status kewarganegaraan seorang anak yang masih kecil merupakan pelanggaran terhadap hak perlindungan anak. Secara hukum, anak tersebut tetap berstatus WNI hingga dewasa dan mampu menentukan pilihannya sendiri.</p>
<p>&#8220;Dilihat dari garis keturunan dan status orang tuanya, anak tersebut jelas masih berstatus warga negara Indonesia. Namun, oleh orang tuanya, statusnya dialihkan atau diinformasikan seolah-olah menjadi warga negara asing. Tindakan ini tentu melanggar hak perlindungan anak,&#8221; tegas Widodo dalam jumpa pers di Jakarta, Kamis (26/2/2026).</p>
<p>Ia menambahkan, &#8220;Jika dua warga negara Indonesia memiliki keturunan, maka anaknya adalah anak Indonesia.&#8221;</p>
<h3>Pertimbangan Tempat Kelahiran dan Sistem Hukum</h3>
<p>Widodo mengakui bahwa faktor tempat kelahiran atau asas <em>ius soli</em> dapat menjadi pertimbangan untuk memperoleh status kewarganegaraan suatu negara. Namun, dalam kasus ini, Inggris bukanlah negara yang menganut sistem tersebut.</p>
<p>&#8220;Selanjutnya, pertanyaannya adalah di negara mana anak itu lahir, dan apakah negara itu menganut <em>ius sanguinis</em> berdasarkan garis keturunan,&#8221; jelas Widodo.</p>
<p>&#8220;Ini menjadi pertanyaan, apakah anaknya memang lahir di Inggris, sementara Inggris termasuk salah satu negara yang tidak menganut <em>ius soli</em>,&#8221; lanjutnya. Pernyataan ini mengisyaratkan bahwa klaim perubahan status kewarganegaraan ke Inggris perlu dikaji ulang secara mendalam, mengingat sistem hukum yang berlaku.</p>
<p>The post <a href="https://www.hugouelman.com/status-kewarganegaraan-anak-alumni-lpdp-ahli-hukum-buka-suara/">Status Kewarganegaraan Anak Alumni LPDP: Ahli Hukum Buka Suara</a> appeared first on <a href="https://www.hugouelman.com"></a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Pergeseran Pola Rekrutmen Terorisme ke Ruang Digital dan Remaja</title>
		<link>https://www.hugouelman.com/pergeseran-pola-rekrutmen-terorisme-ke-ruang-digital-dan-remaja/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[admin]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 31 Dec 2025 14:55:28 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[hukum]]></category>
		<category><![CDATA[nasional]]></category>
		<category><![CDATA[peristiwa]]></category>
		<category><![CDATA[BNPT]]></category>
		<category><![CDATA[deradikalisasi]]></category>
		<category><![CDATA[keamanan siber]]></category>
		<category><![CDATA[media sosial]]></category>
		<category><![CDATA[perlindungan anak]]></category>
		<category><![CDATA[radikalisme]]></category>
		<category><![CDATA[terorisme]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.hugouelman.com/pergeseran-pola-rekrutmen-terorisme-ke-ruang-digital-dan-remaja/</guid>

					<description><![CDATA[<p>Analisis ahli ungkap pergeseran pola rekrutmen terorisme ke media sosial, dengan sasaran baru yang lebih rentan: remaja dan anak-anak....</p>
<p>The post <a href="https://www.hugouelman.com/pergeseran-pola-rekrutmen-terorisme-ke-ruang-digital-dan-remaja/">Pergeseran Pola Rekrutmen Terorisme ke Ruang Digital dan Remaja</a> appeared first on <a href="https://www.hugouelman.com"></a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><a href="https://coffeepress.org/aboutus.html" target="_blank" rel="noopener">Bandar Toto Macau</a> — Pola rekrutmen kelompok terorisme telah mengalami transformasi signifikan. Menurut analisis para ahli, metode yang sebelumnya mengandalkan pertemuan dan interaksi fisik secara langsung, kini telah beralih masif ke ruang digital. Media sosial dan berbagai platform daring lainnya menjadi sarana utama dalam proses penyebaran paham dan pencarian anggota baru.</p>
<h2>Sasaran Baru yang Lebih Rentan</h2>
<p>Yang lebih mengkhawatirkan, sasaran rekrutmen pun tidak lagi terbatas pada kalangan dewasa. Kelompok teroris kini secara aktif menyasar remaja dan anak-anak, yang dinilai berada dalam fase kritis pencarian jati diri sehingga lebih rentan terpapar ideologi radikal yang beredar di dunia maya.</p>
<p>&#8220;Metode rekrutmen telah berkembang dari tatap muka menjadi sangat digital. Jika dahulu fokusnya pada pria dan wanita dewasa, kini sasaran telah meluas ke remaja dan anak. Kelompok usia ini sangat rentan terhadap paparan radikalisme yang disebarkan melalui berbagai piranti dan platform media sosial,&#8221; jelas seorang ahli di bidang kerja sama internasional untuk penanggulangan terorisme.</p>
<h3>Dunia Digital yang Semakin Tidak Ramah</h3>
<p>Fenomena ini dinilai memerlukan kewaspadaan dan perhatian ekstra dari semua pemangku kepentingan. Sebagai contoh, kasus pelibatan siswa sekolah menengah dalam aksi teror menjadi bukti nyata bahwa ruang digital telah berubah menjadi lingkungan yang tidak ramah bagi perkembangan remaja.</p>
<p>Konten-konten berunsur kekerasan, termasuk informasi teknis mengenai pembuatan bahan peledak, dapat diakses dengan mudah oleh anak dan remaja. &#8220;Ruang digital sudah tidak lagi menjadi tempat yang aman bagi anak dan remaja yang sedang dalam proses pembentukan diri. Konten kekerasan, bahkan panduan membuat alat peledak, dapat diakses dengan mudah oleh mereka,&#8221; tegas ahli tersebut.</p>
<p>Kondisi ini menandakan urgensi untuk memperkuat strategi literasi digital, pengawasan konten, serta peran aktif keluarga dan institusi pendidikan dalam melindungi generasi muda dari ancaman radikalisme di dunia maya.</p>
<p>The post <a href="https://www.hugouelman.com/pergeseran-pola-rekrutmen-terorisme-ke-ruang-digital-dan-remaja/">Pergeseran Pola Rekrutmen Terorisme ke Ruang Digital dan Remaja</a> appeared first on <a href="https://www.hugouelman.com"></a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
